Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Indonesia (BI) memperluas cakupan sektor usaha yang bisa mendapatkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Insentif ini memberikan tambahan likuiditas bagi bank-bank yang gencar menyalurkan kredit terhadap sektor usaha yang tercakup.

Mulanya, saat KLM ini diperkenalkan pada 2023, sektor usaha yang tercakup hanya sektor hilirisasi mineral dan batu bara (minerba), non-minerba, perumahan, pariwisata, Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM), ultra mikro (UMi), dan keuangan hijau.

Namun, saat ini diperluas hingga sektor penunjang hilirisasi, konstruksi dan real estate produktif, ekonomi kreatif, otomotif, perdagangan, Listrik-Gas-Air Bersih (LGA), dan jasa sosial. Penyesuaian besaran insentif untuk setiap sektor juga diberikan, dan kebijakan ini berlaku mulai 1 Juni 2024.

Deputi Gubernur BI Juda Agung mengatakan, penguatan dan perluasan insentif KLM ini dilakukan sebagai upaya BI untuk mempertahankan tren penyaluran kredit yang tumbuh tinggi pada Maret 2024, yakni mencapai 12,4%.

“Kami ingin agar momentum pertumbuhan kredit itu terus terjaga dari tantangan gejolak eksternal sehingga kebijakan KLM terus ditujukan untuk pro stability dan pro growth,” kata Juda saat konferensi pers usai rapat dewan gubernur BI secara daring, Rabu (24/4/2024).

Selain itu, ia melanjutkan kebijakan ini juga mempertimbangkan kecenderungan perbankan yang mulai aktif mengucurkan kredit terhadap sektor-sektor yang baru tercakup dalam insentif KLM itu. Oleh sebab itu, kebijakan ini kata dia untuk memastikan kucuran kredit ke sektor usaha yang signifikan mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Karena sekarang pertumbuhan broad base dan bank salurkan ke sektor-sektor baru yang terus tumbuh, itu kami dukung dengan insentif makroprudensial, termasuk sektor otomotif, perdagangan besar, dan eceran, serta jasa sosial, termasuk untuk pendidikan dan kesehatan, maupun pariwisata,” kata Juda Agung.

Besaran insentif ditetapkan paling tinggi tetap sebesar 4%, terdiri dari insentif untuk penyaluran kredit atau pembiayaan paling tinggi sebesar 2,2%, insentif kepada bank penyalur kredit atau pembiayaan inklusif menjadi paling tinggi 1,3%, dan insentif terhadap penyaluran kredit pembiayaan hijau sebesar 0,5%.

Penguatan KLM diarahkan dapat segera memberikan tambahan likuiditas perbankan sebesar Rp 81 triliun sehingga total insentif menjadi Rp 246 triliun. Selanjutnya, sejalan dengan pertumbuhan kredit yang terus meningkat, tambahan likuiditas dari KLM diperkirakan dapat mencapai Rp 115 triliun pada akhir tahun 2024, sehingga total insentif yang diberikan menjadi Rp 280 triliun.

Adapun rincian dari insentif itu sebagai berikut:

1. Insentif atas kredit atau pembiayaan kepada sektor hilirisasi paling tinggi sebesar 0,8% di antaranya industri hilirisasi minerba sebanyak 16 industri, dan sektor hilirisasi non minerba 16 industri.

2. Insentif untuk sektor perumahan paling tinggi sebesar 0,4% terhadap sektor perumahan yang termasuk perumahan rakyat yang terdiri dari 5 sektor.

3. Insentif untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif paling tinggi sebesar 0,5% yang diberikan terhadap 16 sektor.

4. Insentif untuk sektor otomotif, perdagangan, LGA dan jasa sosial paling tinggi 0,5% terhadap 8 sektor.

5. Insentif untuk penyaluran kredit atau pembiayaan inklusif termasuk kredit usaha rakyat atau KUR paling tinggi sebesar 1%.

6. Insentif untuk penyaluran kredit atau pembiayaan ultra mikro sebesar 0,3%.

7. Insentif untuk penyaluran kredit atau pembiayaan hijau sebesar 0,5%

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


BI Ramal Ekonomi RI Bisa Sentuh 5,5% Di Tahun Politik


(haa/haa)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *