Jakarta, CNBC Indonesia – Banyak yang mengatakan Gen-Z sudah makin malas membeli property karena harganya semakin di luar batas kesanggupan. Kalaupun menggunakan sistem Kredit Pemilikan Rumah (KPR), maka bakal menjadi perjalanan panjang dan melelahkan.

Direktur Consumer Bank Syariah Indonesia Hirwandi Gafar menilai Gen-Z lebih cenderung takut untuk tidak memiliki rumah.

“Kemudian kalau dilihat dari setera¬†ataupun usia, ini juga menarik juga untuk kita lihat. Misalnya, kelompok Gen-Z. Gen-Z ini lebih Muda lagi daripada milenial. Mungkin ada beranggapan bahwa Gen-Z ini tidak menarik untuk investasi di perumahan. Tapi sebenarnya kalau kita lihat ada sebagian Gen-Z ini juga justru dia worry kalau tidak punya rumah saat ini,” katanya dalam Propertinomic CNBC Indonesia, Rabu (24/4/2024).

Salah satu alasan kekhawatiran itu disebabkan pendapatan yang dimiliki tidak sebanding dengan kenaikan harga rumah.




Suasana perumahan subsidi pemerintah di Kawasan, Ciseeng Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, (19/2/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Foto: Suasana perumahan subsidi pemerintah di Kawasan, Ciseeng Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, (19/2/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Suasana perumahan subsidi pemerintah di Kawasan, Ciseeng Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, (19/2/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

“Kenapa? Karena dia sudah mulai melihat nih, generasi di atasnya yang sebetulnya tidak begitu tertarik tadinya dengan rumah ataupun properti, dia lihat mereka agak kesulitan di dalam memiliki rumah. Sehingga berkaca itu, mereka justru berpikir bagaimana dia bisa memiliki rumah. Nah ini juga kita membuat skema pembiayaan perumahan untuk kelompok ini, Gen Z maupun untuk milenial,” tuturnya.

Tidak ketinggalan, Joko Suranto, Ketua Real Estat Indonesia (REI) menilai ada perbedaan antara Gen Z dan generasi sebelumnya, dimana Gen Z cenderung menerima semua informasi tanpa memfilternya, sehingga timbul anggapan dan pemikiran secara masif bahwa akan cara pandang bahkan kebiasaan hidup yang berbeda. Untuk menanggulangi stigma itu, perlu ada edukasi mengenai pentingnya memiliki papan atau rumah.

“Ini juga sudah pernah saya sampaikan kepada Kementerian Perumahan atau Kementerian Pembangunan Perumahan, pada saat itu bahwa kita harus go to campus. Karena apa? Mereka yang ada di kampus yang sudah mau lulus inilah yang harus diajak berbicara bahwa pentingnya yang namanya rumah, kalian dihasilkan dari kasih sayang di rumah, kalian pada saatnya juga harus berpikir adanya rumah karena dengan rumah itu bisa membangun sesuatu yang lebih produktif,” kata Joko dalam Propertinomic CNBC Indonesia.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Video: Tahun Politik, Sektor Properti Diramal Masih Energik


(fys/wur)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *