Jakarta, CNBC Indonesia – Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih terus berlanjut. Belakangan nilai tukar rupiah mencapai di atas Rp16.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Lantas bagaimana dengan harga komoditas impor seperti kedelai yang mayoritas masih impor?

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifudin menyebut, pelemahan rupiah tidak berdampak signifikan terhadap harga kedelai di dalam negeri, meski komoditas tersebut didatangkan melalui importasi.

Sebab, katanya, berdasarkan Chicago Board of Trade (CBOT) sekarang ini harga kedelai dunia sedang turun sejalan dengan suplainya yang melimpah. Adapun melimpahnya ketersediaan kedelai dunia, menurut Aip, berkat teknologi canggih yang dimiliki oleh negara-negara produsen kedelai, seperti Amerika Serikat (AS), Brasil, sampai dengan Argentina.

“Jadi memang produksi kedelai dunia saat ini meningkat, karena teknologinya di Brasil, AS, Argentina itu semakin canggih. Padahal China ini sejak 2 tahunan telah mengimpor hampir 100 juta ton per tahun. Tapi karena produksi Brasil itu yang asalnya dari 70 jutaan ton per tahun, menjadi 130-140 juta ton, karena efisien dan produktivitas nya lebih bagus, sehingga suplai kedelai untuk dunia itu tetap mencukupi,” ungkap Aip kepada CNBC Indonesia, Senin (28/4/2024).




Pedagang tempe melayani pembeli di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (15/2/2022). Lonjakan harga kedelai global berdampal bagi industri tempe dan tahu di dalam negeri, yang didominasi skala rumah tangga.(CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)Foto: Pedagang tempe melayani pembeli di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (15/2/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)
Pedagang tempe melayani pembeli di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (15/2/2022). Lonjakan harga kedelai global berdampal bagi industri tempe dan tahu di dalam negeri, yang didominasi skala rumah tangga.(CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Sementara kebutuhan kedelai di Indonesia, lanjut Aip, setiap tahunnya adalah sekitar 3 juta ton. Aip mengatakan, karena harga kedelai dunia yang saat ini rendah, sehingga ketika dia sudah dirupiahkan dengan kurs yang ada saat ini, harga tersebut masih dalam batas wajar atau normal.

“Jadi walaupun itu sekarang dolarnya naik, tapi harga di sana murah, kalau di-rupiah kan masih rendah. Harganya di sana itu kira-kira cuma US$1,2 per basel, atau hanya sekitar US$ 450-460 per metrik ton. Kalau itu berarti cuma sekitar Rp8.000 per kg,” terang dia.

“Makanya harga kedelai di sini menjadi kira-kira Rp10.000-Rp11.000 per kg, itu untuk importir nya nyaman-nyaman saja. Masih dalam batas normal,” sambungnya.

Aip menegaskan bahwa belum ada dampak yang signifikan dari kenaikan dolar terhadap harga kedelai. “Karena produksi meningkat, permintaan itu peningkatannya itu tidak seberapa, jadi lebih banyak produksi, akhirnya memang harga kedelai itu stabil di bawah. Sehingga harga di sini tetap stabil, di Indonesia,” ucapnya.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


RI Bersiap Dilanda ‘Kiamat’ Tahu-Tempe, Tanda-Tandanya Ini


(wur)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *