Jakarta, CNBC Indonesia – Ekonom senior yang juga merupakan pendiri Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri menilai kondisi ekonomi masyarakat kelas menengah akan semakin tertekan, di tengah arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang tengah tinggi.

Kebijakan suku bunga BI Rate telah naik per April 2024 sebesar 25 basis points (bps) menjadi 6,25% dengan tujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, yang saat ini terus melemah hingga bertengger berhari-hari di kisaran atas Rp 16.200 per dolar AS. Jauh di atas asumsi makro pemerintah sebesar Rp 15.000.

“Karena kan yang pinjam, pinjam cicilan kan, cicilan KPR, cicilan kredit mobil, macam-macam lah yang kelas menengah yang kena, kelas menengah,” kata Faisal dalam progran Power Lunch CNBC Indonesia, dikutip Selasa (30/4/2024).

Menurutnya, kelas menengah akan terimbas paling cepat terhadap suku bunga BI Rate karena kebutuhan dan kemampuan mereka untuk mengajukan kredit atau pembiayaan. BI mencatat, pembiayaan perbankan per Maret 2024 didominasi rumah tangga dengan tingkat pengeluaran Rp 3-5 juta per bulan, porsi besarannya mencapai 39,5%.

Selanjutnya, 38,5% rumah tangga dengan tingkat pengeluaran Rp1-3 juta per bulan menurut BI telah menyatakan mengajukan pembiayaan per Maret 2024. Sementara itu, hanya 22,0% rumah tangga dengan tingkat pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan yang mengajukan pembiayaan atau kredit.

Di tengah potensi naiknya tekanan beban cicilan itu, Faisal mengatakan, nilai tukar rupiah yang terus tinggi di level Rp 16.200 meski BI Rate naik juga akan membuat daya beli masyarakat kelas menengah kian tertekan. Apalagi, pendapatan mereka tak melulu mengimbangi kenaikan biaya pokok pengeluaran, seperti kebutuhan untuk pangan.

“Yang lebih harus diwaspadai adalah penuruna daya beli keseluruhan di kelas menegah ke bawah karena kalau rupiahnyai ini kan Rp 16.240, 100% gandum kita impor, harga mie naik, makanan pokok nomor dua masyarakat,” ucap Faisal.

“Kemudian BBM, terus gula ingat gak ada harga patokan 12.500 kalau ada toko yang jual di atas itu polisi datang skarang mendekati Rp 20 ribu, marena 6,5 jtua ton yang kita impor jadi ini otomatis naik enggak perlu pakai teori,” tegasnya.

Oleh sebab itu, ia memperkirakan tekanan inflasi ke depan masih akan terus meninggi di atas target pemerintah hingga bisa tembus ke level 4%-5%. Per Maret 2024 sudah bergerak ke level 3,05% atau jauh di atas target pemerintah dalam APBN 2024 sebesar 2,8%.

Akibat tekanan daya beli di tengah tidak adanya perbaikan terhadap pendapatan masyarakat, Faisal memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan tercapai 4,8% pada tahun ini, jauh di bawah target pemerintah yang sebesar 5,2%.

“Yang harus diwaspadai penurunan daya beli masyarakat karena 54% PDB kita dari konsumsi masyarakat,” ujar Faisal.

BI sejak Maret lalu sebetulnya telah mewanti-wanti bahwa tingkat inflasi bahan pangan bergejolak atau volatile food telah menggerus tingkat kenaikan gaji masyarakat.

Per Maret 2024, secara tahunan kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 10,33% (yoy), meningkat dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 8,47% (yoy). Sedangkan, kenaikan rata-rata gaji ASN 2019-2024 sebesar 6,5% dengan catatan BI untuk periode 2020-2023 tak ada kenaikan gaji ASN. Adapun, kenaikan UMR atau gaji pegawai swasta rata-rata kenaikannya hanya 4,9% pada 2020-2024.

“Jangan sampai kenaikan harga pangan ini menggerogoti kenaikan penghasilan mereka, itu yang penting pertama,” kata Kepala Departemen Regional BI Arief Hartawan dalam Rapat Koordinasi Pengamanan Pasokan dan Harga Pangan di Jakarta pada awal Maret lalu.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Inflasi Pangan Naik Lebih Tinggi Dibanding Gaji PNS-UMR, Ini Bahayanya


(haa/haa)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *