Jakarta, CNBC Indonesia – Proyek ambisius Arab Saudi, kota futuristik NEOM senilai US$ 1,5 triliun (sekitar Rp 24 ribu triliun) kini terancam gagal. Sebuah laporan menyebut pengurangan skala dilakukan di megaproyek itu.

Mengutip CNBC International Selasa (30/4/2024) salah satu ikon di NEOM yakni The Line, tak akan dibangun sesuai dengan skenario awal. Bangunan utama dengan konsep memanjang vertikal membelah gurun dan berdinding kaca itu, tak jadi dibangun seluas 105 mil.

The Line dilaporkan hanya akan membentang sejauh 1,5 mil. Ini merupakan pengurangan sebesar 98,6%. Mengacu ke sumber anonim, rencana awal pemerintah Arab Saudi untuk memiliki 1,5 juta orang yang tinggal di The Line pada tahun 2030 juga dipangkas. Saat ini bangunan itu hanya akan menampung 300.000 orang.

Pengurangan terjadi karena kekhawatiran mengenai pendanaan untuk NEOM. Dana kekayaan negara Arab Saudi, Dana Investasi Publik, belum menyetujui anggaran NEOM untuk tahun 2024.




Saudi juga membangun mirror line kota Neom. Pengikis langit sepanjang 170 km untuk menampung sekitar 9 juta penduduk. (Twitter @FindingNimo__)Foto: Potret The Line yang menjadi bangunan proyek Kota NEOM. (Twitter @FindingNimo__)

Laporan ini sebenarnya juga diutarakan The Wall Street Journal. Media itu menyebut bagaimana Arab Saudi telah meminjam sejumlah dana untuk membiayai serangkaian proyek “gila” tersebut karena kekurangan pembiayaan sebagai mana dikutip Business Insider

Laman yang sama juga menyebut bagaimana kontraktor mulai memecat pekerja, mengutip sebuah dokumen yang dilihat Bloomberg. Alasan yang disebutkan karena adanya penundaan dalam proyek.

“Para ahli telah mengangkat isu-isu etika mengenai rencana pembangunan kota baru tersebut, dan beberapa pihak khawatir bahwa kota tersebut dapat menjadi bagian dari program pengawasan besar-besaran. Pihak lain telah mengajukan keberatan etis mengenai aturan ketat dalam mengkritik proyek tersebut,” tambah laman itu menjelaskan lagi.

NEOM sendiri merupakan bagian dari inisiatif Visi 2030 kerajaan yang dicanangkan Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri (PM) Mohammed bin Salman. Program di negeri Raja Salman bin Abdulaziz itu bertujuan mendiversifikasi perekonomian Arab Saudi dari minyak.

Sementara itu, dalam pernyataan terbaru Senin kemarin, Menteri Perekonomian Arab Saudi Faisal Al Ibrahim menolak laporan tersebut. Ia mengaku semua proyek berjalan dengan kecepatan penuh.

“Kami bertekad untuk melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kami melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan kami akan memberikan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya,” katanya ke CNBC International.

Namun ia tak mengingkari adanya kualifikasi tertentu. Di mana keputusan dibuat untuk memberi dampak yang lebih optimal.

“Kami melihat masukan dari pasar, kami melihat lebih banyak minat dari investor dan kami akan selalu memprioritaskan pada hal-hal yang dapat kami optimalkan untuk mendapatkan dampak ekonomi yang optimal,” ujarnya.

“Saat ini perekonomian di kerajaan ini tumbuh lebih cepat, namun kami tidak ingin terlalu memanaskannya,” jelasnya.

“Kami tidak ingin menyelesaikan proyek-proyek ini dengan biaya impor yang terlalu besar dan bertentangan dengan kepentingan kami sendiri. Kami akan terus melaksanakan proyek-proyek ini dengan cara yang memenuhi prioritas-prioritas ini, melaksanakan proyek-proyek ini dan memberikan dampak sehat yang optimal bagi perekonomian dan … pertumbuhan non-minyak yang sehat di dalamnya,” tegasnya.

Ia pun menjelaskan bahwa konsep proyek ini sesungguhnya adalah jangka panjang. Dampak spesifik tertentu juga ingin dicapai.

“Ini adalah proyek jangka panjang dengan desain modular,” katanya.

“Mega proyek lainnya akan dilaksanakan untuk memberikan dampak spesifik di sektor tertentu,” tambahnya.

Proyek ini, tambahnya, adalah sangat baru dan belum pernah ada sebelumnya. Meski investor menunjukkan minat besar pihaknya tetap hati-hati dalam mengerjakannya.

Perlu diingat bahwa sektor-sektor ini tidak ada di masa lalu. Mereka dibangun dari awal. Hal ini memerlukan sejumlah investasi dan dukungan penuh dari pemerintah dan dana kekayaan negara,” ujarnya lagi.

“Dan kami melihat peningkatan minat investor terhadap semua proyek ini. Proyek-proyek ini akan dilaksanakan sesuai skalanya dan dengan cara yang prioritas-nya sesuai dengan kebutuhan proyek, keuntungan dari proyek-proyek tersebut, dan dampak ekonominya. Ini seperti meminimalkan kebocoran, juga meminimalkan risiko panas berlebih,” tambahnya.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Anak Raja Salman Tiba-Tiba Telepon NATO, Ada Apa?


(sef/sef)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *