Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah Israel terus memberikan tekanan kepada milisi penguasa Gaza Palestina, Hamas, untuk segera menyetujui poin perundingan antara keduanya. Terbaru, Tel Aviv melontarkan ancaman baru jika poin kesepakatannya tidak kunjung disepakati.

Mengutip The Guardian, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu masih menolak tuntutan Hamas untuk mengakhiri perang di Gaza secara definitif. Ia mengatakan bahwa gencatan senjata permanen akan memungkinkan kelompok tersebut untuk tetap berkuasa dan terus menimbulkan ancaman terhadap Israel.

“Hamas tetap mempertahankan posisi ekstremnya, yang pertama di antaranya adalah tuntutan untuk menarik seluruh pasukan kami dari Jalur Gaza, mengakhiri perang, dan membiarkan Hamas tetap berkuasa,” ujarnya pada sebuah pernyataan pers pada Minggu (5/5/2024).

“Kami telah bekerja sepanjang waktu untuk merumuskan kesepakatan yang akan mengembalikan sandera kami.”

Menyambung Netanyahu, Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, mengatakan Hamas tampaknya tidak serius untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata. Ia menyebut bila tidak ada kesepakatan, Tel Aviv akan meneruskan serangan ke Rafah, yang menjadi rumah bagi 1 juta pengungsi Gaza.

“Jika kesepakatan tidak tercapai hal ini akan menyebabkan Israel melancarkan serangan yang sering menimbulkan ancaman ke Rafah, yang menurut laporan merupakan markas Hamas dan tempat di mana sekitar satu juta orang yang mengungsi dari tempat lain di Gaza,” paparnya.

Perang antara Israel dan Hamas berkecamuk sejak 7 Oktober lalu. Saat itu, Hamas melancarkan serangkaian serangan terhadap Israel yang menewaskan lebih dari 1.100 orang. Operasi militer Israel selanjutnya di Gaza telah menewaskan lebih dari 30 ribu warga Palestina.

Sementara itu, ancaman ini dilontarkan saat perundingan damai di Kairo, Mesir, belum membuahkan hasil. Baik Israel maupun Hamas menggambarkan satu sama lain sebagai pihak yang keras kepala namun keduanya berada di bawah tekanan untuk menyetujui gencatan senjata.

Ismail Haniyeh, pemimpin politik paling senior Hamas, mengatakan bahwa kelompok tersebut ingin mencapai gencatan senjata komprehensif yang akan mengakhiri agresi Israel dan dilakukannya pertukaran sandera yang serius.

“Netanyahu bersalah karena menyabotase upaya yang dilakukan melalui mediator dan berbagai pihak,” tegasnya.

Kritikus di Israel juga menuding Netanyahu berusaha memperpanjang perang. Pada hari Minggu, Forum Sandera dan Keluarga Hilang mengajukan gugatan langsung kepada Netanyahu yang memintanya untuk “mengabaikan semua tekanan politik”.

“Sejarah tidak akan memaafkan Anda jika Anda melewatkan kesempatan ini”, kata pernyataan itu. Sekitar 128 sandera masih berada di Gaza, meskipun antara 30 dan 50 orang diperkirakan tewas dalam penawanan.

 

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Israel Nego soal Pembebasan Sandera, Ini Syarat dari Hamas


(luc/luc)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *