Jakarta, CNBC Indonesia – Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menilai tawaran dari negara-negara penghasil nikel dunia kepada Indonesia untuk bergabung ke organisasi International Nickel Study Group (INSG) akan berdampak positif.

Salah satunya bagi perusahaan tambang nikel domestik guna meningkatkan standar atau pedoman yang digunakan dalam menjalankan pembangunan berkelanjutan (ESG).

“INSG itu merupakan group study tentang nikel yang mengedepankan ESG dalam operasionalnya. Hal ini cukup bagus kalau Indonesia masuk ke group itu karena bisa meningkatkan standar ESG untuk perusahaan tambang nikel,” ujar Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Rizal Kasli kepada CNBC Indonesia, Senin (6/5/2024).

Di samping itu, Rizal mengungkapkan saat ini Indonesia sendiri merupakan salah satu produsen nikel terbesar di dunia. Indonesia merupakan main player komoditas nikel dengan porsi lebih dari 60% produksi global

“Ini akan menjadi barometer penambangan nikel secara global. Diharapkan operasional perusahaan tambang nikel ke depan harus menerapkan prinsip ESG dalam operasionalnya dan anggapan bahwa nikel Indonesia tidak ramah lingkungan bisa dihindari,” kata dia.

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri ESDM bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batu Bara Irwandy Arif mengatakan sejumlah negara penghasil nikel meminta Indonesia untuk bergabung ke sebuah organisasi International Nickel Study Group (INSG). Adapun, INSG sendiri merupakan organisasi antar pemerintah yang didirikan pada bulan Juni 1990.

Ia menjelaskan INSG merupakan sebuah lembaga organisasi analisis pasar nikel. Indonesia sejatinya pernah menjadi anggota INSG di awal organisasi tersebut baru dibentuk.

“Dulu kita pernah pertama kali gabung pada saat berdiri tahun 1990 ada delegasi kita yang dipimpin Dirjen pada saat itu tapi kemudian kita 2006 keluar karena ada masalah Portugal itu di Timor-Timur. Sekarang mereka mengajak kita untuk masuk kembali tapi kita lagi mempertimbangkan,” kata Irwandy ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Kamis (2/5/2024).

Menurut Irwandy, INSG yang merupakan kumpulan dari beberapa negara penghasil nikel mempunyai kekuatan di aspek market analysis.

Sebagaimana diketahui, Indonesia telah diakui sebagai negara pemilik cadangan nikel terbesar di dunia. Melansir data dari Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), produksi nikel di Indonesia mencapai 1,8 juta metrik ton dan memberikan kontribusi sebesar 50% terhadap total produksi nikel dunia.

Besarnya cadangan nikel tersebut juga dibarengi dengan tingginya tingkat konsumsi di dalam negeri, yakni untuk jenis nikel kadar tinggi atau saprolite dan nikel kadar rendah atau limonite, yang diproses dengan fasilitas pemurnian dan pemrosesan (smelter) nikel. Adapun konsumsi bijih nikel di dalam negeri pada 2023 diperkirakan mencapai 145 juta ton.

Dengan tingginya tingkat cadangan dan konsumsi nikel di dalam negeri, tidak heran jika pemerintah terus mendorong pentingnya menjaga hilirisasi industri untuk melakukan pembangunan smelter di Tanah Air demi memperkuat nilai tambah produk dan mendorong pertumbuhan ekonomi, dari tingkat daerah hingga nasional.

Hingga saat ini, beberapa kawasan di Indonesia telah memiliki smelter nikel yang maju, antara lain seperti Kawasan Industri Morowali, Kawasan Industri Stardust Estate Investment di Morowali Utara, dan Kawasan Industri Virtue Dragon di Konawe.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Tambang Nikel Dunia Banyak yang Tutup Gegara RI? Ini Respons Luhut


(pgr/pgr)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *