Jakarta, CNBC Indonesia – Pengusaha ritel modern dan pedagang pasar tradisional sepakat menjalin kerja sama menyangkut ketersediaan bahan pangan pokok dan penting. Hal itu ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (Mou) oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey dengan Ketua Umum Asosiasi Pasar Rakyat Seluruh Indonesia (Aparsi) Suhendro.

MoU itu memuat kerja sama kolaborasi dan bersinergi menjaga pasokan bahan pokok dan penting untuk kebutuhan masyarakat Indonesia. Salah satunya, sebagai dampak jika La Nina melanda Indonesia. 

“Kerja sama ini adalah yang pertama di Indonesia, kerja sama antara ritel modern dengan pasar rakyat. Sudah tidak perlu ada dikotomi lagi, toh kepentingan kita sama-sama memberikan layanan untuk rakyat. Karena kita sebetulnya sama-sama pedagang, maunya pedagang ya sama-sama ingin jualan,” kata Roy kepada wartawan di Jakarta, Selasa (7/5/2024).

“Sinergi antara ritel modern dan pasar rakyat adalah dalam hal kerjasama yang saling mengisi, saling mengembangkan dan saling memajukan,” sambungnya.

Adapun bentuk kerja sama keduanya adalah terkait distribusi, pertukaran produk sampai dengan pertukaran informasi terkait bahan pangan pokok dan penting. Roy mengatakan, isu bahan pokok dan penting akan menjadi masalah yang tak mudah di masa depan. Hal itulah yang mendorong Aprindo dan Aparsi berkolaborasi dan bersinergi dalam menjaga pasokan dan kestabilan harga bahan pokok di masyarakat.

“Jadi ritel modern dan pasar rakyat akan mengimplementasikan pertukaran produk, terutama bahan pangan pokok dan penting. Kita tahu dari waktu ke waktu isu tentang bapok tidak lagi menjadi lebih mudah,” sebutnya.

“Tahun lalu ada El Nino atau musim kering ekstrim, tahun ini ada adiknya, yakni La Nina. Yang satu kering dan satunya banjir. Padi itu kering bisa mati, tapi banjir juga sama akan rusak padinya, nggak bisa dipanen. Jadi ke depan tidak akan lebih mudah yang namanya supply chain, oleh karena itu kita berkolaborasi,” tambah Roy.

Dengan kerja sama itu, ujarnya, kedua pihak akan saling bertukar informasi. Termasuk ketersediaan stok bahan pangan pokok dan penting yang dimiliki masing-masing pihak. 

“Kita bisa saling menginformasikan. Jadi apa yang kita miliki, sumber importir beras, maka kita bisa berikan informasi itu, atau kita juga bisa menyalurkan ke pasar rakyat. Nggak ada lagi eksklusifitas, ritel modern lebih mumpuni atau mapan daripada pasar rakyat. Nah kita akan hilangkan dikotomi itu,” sambungnya.

“Seperti halnya bawang merah, pasti teman-teman di pasar rakyat mungkin lebih dulu mendapatkan informasi dari sentra produksinya di Brebes, sehingga bisa diinformasikan ke ritel modern. Termasuk juga informasi dari pemerintah, kita bisa saling menginformasikan. Karena terkadang informasi ini kita kerap terlambat juga. Jadi ini akan kita selesaikan masalah ini,” tutur Roy.

Selain terkait dengan pertukaran barang dan informasi, Suhendro mengatakan, kerja sama itu akan memajukan sektor perdagangan Indonesia.

“Kita harus akui bahwa kita (pedagang pasar rakyat) memang harus banyak belajar dari ritel modern. Ilmu-ilmu terkait display barang dan lain-lain itu harus kita pelajari dari ritel modern. Kita juga nggak mau pasar jadi bagus, tapi omzetnya menurun. MoU tidak hanya terlepas di MoU saja, tapi ada kerjasama riil. Pasar rakyat dan ritel modern akan menjadi satu,” kata Suhendro.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Jawaban Menohok Bos Badan Pangan Soal Beli Beras Dibatasi


(dce)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *