Jakarta, CNBC Indonesia – Permintaan ekspor batu bara dari Indonesia mengalami peningkatan signifikan pada kuartal I 2024. Hal tersebut menyusul dengan penggunaan listrik yang meningkat drastis untuk pendingin ruangan karena gelombang panas yang terjadi di negara tetangga dan Asia.

Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) menjelaskan selama kuartal I 2024, terdapat peningkatan permintaan batu bara RI dari negara tetangga dan Asia. Peningkatan permintaan batu bara ini terefleksi dari peningkatan jumlah ekspor ke Vietnam, India dan China.

“Vietnam meningkatkan impor batu bara, gas bahkan listrik untuk memastikan tidak terjadi shortage energi seperti tahun sebelumnya. Hal ini terjadi karena kekeringan yang membuat performa PLTA di bawah kapasitas,” kata dia kepada CNBC Indonesia, Selasa (7/5/2024).

Di sisi lain, ia memproyeksikan produksi batu bara RI pada kuartal II tahun ini berpotensi melonjak. Ini terjadi lantaran ditunjang oleh cuaca yang relatif lebih kering dibandingkan kuartal I. “Secara kuantitatif rata-rata peningkatan produksi dan ekspor Indonesia lebih tinggi sekitar 4-5% dibanding kuartal satu berdasarkan data Modi dan BPS selama 5 tahun terakhir,” kata dia.

Terpisah, Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Bidang Tata Kelola Minerba Kementerian ESDM Irwandy Arif mengatakan hingga kini pihaknya belum mempunyai data mengenai permintaan batu bara dari beberapa negara tetangga dan Asia. Seperti Filipina, Thailand, dan India.

Namun, dia memastikan bahwa suatu perubahan pembelian tiba-tiba biasanya jarang terjadi. Kecuali terdapat kejadian yang sangat istimewa. “Kenaikan harga batu bara saat ini belum signifikan. Kemungkinan masih naik turun tapi tidak signifikan,” kata dia.

Sebelumnya S&P Global menjelaskan kenaikan harga batu bara ditopang oleh proyeksi permintaan batu bara di China dan India. Permintaan dari China kemungkinan akan naik karena meningkatnya permintaan (energi) setelah libur Hari Buruh.

“Pembangkit listrik di India juga diperkirakan akan melanjutkan pembelian dari luar negeri karena suhu udara diperkirakan akan melonjak,” tulis S&P Global dalam Market Movers Asia May 6-10: Singapore Cooking Coal Conference in focus; Chinese market reopens after Labor Day holidays, dalam website resmi mereka.

Seperti diketahui, kawasan Asia terutama ASEAN dilanda gelombang panas. Gelombang panas (heat wave) yang melanda Asia saat ini bisa menjadi salah satu berkah batu bara. Permintaan batu bara melonjak tajam karena penggunaan listrik meningkat drastis untuk pendingin ruangan.

Adapun, sejumlah negara Asia saat ini tengah berjuang menghadapi gelombang panas. Di antaranya adalah Thailand, Filipina, Myanmar, hingga India. Negara-negara tersebut masih mengandalkan pembangkit batu bara untuk menghasilkan listrik.

India mengandalkan 75% produksi listrik dari batu bara sementara Vietnam sekitar 55%, Myanmar sebesar 50%, dan Filipina sekitar 58%.

India juga bersiap menghadapi musim panas Pemerintah India memperkirakan permintaan listrik akan mencapai puncak pada musim panas April-Juni. Permintaan listrik diperkirakan akan menembus 250 Gigawatt (GW). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pada puncak musim panas tahun lalu pada September 2023 yakni 243 Gw.

Untuk mengantisipasi lonjakan penggunaan listrik dan batu bara di pembangkit, pemerintah India sudah meminta pembangkit untuk mengimpor batu bara lebih awal.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Iuran MIP Batu Bara Berlaku Januari, Untungkan Pengusaha?


(pgr/pgr)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *