Tbilisi, CNBC Indonesia – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai perubahan iklim adalah masalah serius. Gelombang panas yang menghantam dunia, khususnya selatan dan tenggara Asia bukti kalau itu harus ditangani.

“Tahun lalu, suhu global melebihi 1,45 derajat Celcius, lebih tinggi dari suhu pada masa pra-industri,” ungkapnya dalam Pertemuan Tahunan Asian Development Bank (ADB) di Tbilisi, Georgia akhir pekan lalu.

“Seminggu lalu, negara-negara Asia Selatan dan Tenggara dilanda gelombang panas. Masalah perubahan iklim dapat menyebabkan masalah yang lebih serius dan sering terjadi di masa depan,” paparnya.

Menurut Sri Mulyani sebagian negara anggota ADB sangat rentan terhadap perubahan iklim. Maka dari itu semua negara harus mengambil sikap agar dampaknya bisa diantisipasi.

“Statistik yang mengkhawatirkan ini menggarisbawahi perlunya tindakan segera dan tegas untuk memitigasi dampak perubahan iklim dan melindungi planet kita untuk generasi mendatang,” terangnya.

Indonesia sendiri, kata Sri Mulyani telah memulai transisi energi sebagai bagian dari upaya penanganan perubahan iklim. Meskipun ada sederet tantangan yang harus dihadapi.

Salah satunya mengenai keterbatasan anggaran. Sebagai negara berkembang, Indonesia tidak bisa mengalokasikan semua anggaran untuk persoalan tersebut karena masih ada masalah kemiskinan, pengangguran serta infrastruktur yang harus diselesaikan.

“Indonesia berisiko kehilangan sekitar 2,87% PDB kita,” tegasnya.

Pada sisi lain, Indonesia adalah produsen besar batu bara. Mayoritas pembangkit listrik menggunakan sumber energi tersebut. Pemerintah barus memikirkan seluruh dampak dalam implementasi kebijakan transisi energi.

“Ada kebutuhan untuk beralih ke energi terbarukan, tingginya biaya yang terkait dengan transisi ini menimbulkan beban keuangan yang signifikan,” imbuhnya.

Indonesia berkomitmen untuk mencapai target 66% energi terbarukan pada tahun 2050. Pemerintah telah membentuk platform Mekanisme Transisi Energi (ETM) untuk mempercepat kemajuan transisi. ADB turut mengambil perang penting.

“Saat ini, kami sedang dalam tahap finalisasi paket pensiun dini untuk pembangkit listrik tenaga batubara berkapasitas 660 megawatt yang akan menjadi proyek percontohan kami. Kami berharap proyek ini dapat sukses dan direplikasi di pembangkit listrik tenaga batubara lainnya. Mengingat besarnya kebutuhan finansial untuk transisi energi, kami ingin mengundang negara dan pihak lain untuk mendukung kami,” pungkasnya.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Sri Mulyani: Hadapi Perubahan Iklim Tak Bisa Tanpa Pendanaan


(haa/haa)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *